Resensi

Resensi Kemah Karya Ambisi Penulis

Judul buku: Kemah
Penulis: Ambisi Penulis
Penerbit: AP Publishing
Tahun Terbit: 2019
Tebal Halaman: 139 Halaman
No ISBN: 978-602-490-320-6
Rate: 3 ☆☆☆

Blurb: Raya selalu menjadi korban bully Dion CS. Setiap hari, kelompok mereka selalu memberi kejutan untuk menghabisi Raya. Raya yang lemah hanya bisa menangis, tidak ada teman yang berani mendekatinya karena takut akan menjadi sasaran Dion CS.
Perkemahan, merupakan kesempatan untuk ajang balas dendam. Satu per satu anggota Dion CS mulai diteror lalu diculik. Setelah itu mereka dibunuh satu per satu secara brutal.
Pembunuhan yang terjadi secara terus- menerus membuat raya dicurigai sang guru. Raya disalahkan, lagi dan lagi tidak ada yang percaya. Siapa sebenarnya pembunuh anggota Dion CS? Apakah Raya? Atau orang lain?

Membaca buku ini membuat saya menarik napas berkali-kali. Selain karena genre thillernya, cerita di atas pun mengangkat tema yang kini tengah ramai dibicarakan. Yaitu tentang pembulyan.

Cerita di mulai dengan pembulyan yang dilakukan Dion CS terhadap Raya. Pada lembar pertama, saya mengira kalau sosok Raya itu perempuan. Ternyata ketika membaca lembar selanjutnya, saya baru tahu kalau dia itu laki-laki. Karakter Raya yang cuma bisa menangis ini membuat saya kesal dan sangat jengkel. Berbeda dengan karakter Semesta, kakaknya Raya yang digambarkan sosok kuat dan pintar berkelahi.

Tiga puluh menit berlalu. Jesica menyudahi pekerjaannya. Lukisan seekor anak kucing terlukis di punggung Raya yang tak henti mengeluarkan darah. Halaman 26.

Benar-benar tak habis pikir kenapa sesabar ini karakter Raya? Dia seorang lelaki yang harusnya bermental baja hanya bisa pasrah menyerahkan punggungnya untuk dilukis dengan silet oleh Jesica. Salah satu anggota geng Dion CS. Meskipun kesal dengan karakter ini, saya terus melanjutkan membaca ceritanya hingga ke inti, di mana mereka melakukan perkemahan. Dan di sini klimaksnya terjadi. Mereka satu persatu hilang dan terbunuh.

Tiktok tiktok
Suara jam dan ayam berkokok
Pada angka dua, satu telah tiba
Kelipatan pertama, dua yang dha akan menyusulnya
Apakah hari ini atau esok? Yang begitu menggoda tak sabar untuk disua
Lalu tinggallah dua, pilih yang mana?
Haruskah liang bertemu liang saja?
Ah, itu menarik sepertinya
Ini yang utama
Dan yang kini hilang, ada pada waktu kursi tua menemu purnana yang mulai condong ke arah senja. Jika kau terlambat, phoenix akan mendapat sarapannya jauh sebelum bagaskata sempat membuka mata. Halaman 94

Puisi yang disematkan pada tengah cerita oleh penulis, sekaligus memberikan teka-teki untuk Raya dan gurunya. Sebenarnya bukan hanya Raya, tapi saya sebagai pembaca pun turut andil mencerna kalimat itu. Menarik.

Meskipun cerita ini tentang pembulyan, tetapi saya sangat menyarankan agar tak pernah terjadi di lingkungan kita. Cukup dijadikan sebagai gambaran dan pembelajaran saja. Novel ini bisa dijadikan teman di waktu luang. Jika ada yang ingin ikut membacanya seperti saya, bisa membeli dan memesannya lewat ig @ambisi_penulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s