Ngobrol Asik

#Cerpen : Ambisi

Apa yang akan dia lakukan selanjutnya?! Apa belum puas dia menyiksaku?! Aku menggigit bibir bagian bawah, menahan perih akibat sayatan pisau di lengan bagian kanan. Lelaki berambut keriting seperti mie itu memainkan pisau yang berlumuran darahku. Dia mencium lalu menjilatnya. Bahkan kini dia tertawa melihatku yang kini tak berdaya. Oh Tuhan, aku ingin bebas dan pergi dari pria gila ini!!!
“Sayang, kenapa kamu menatapku seperti itu. Apakah kamu merasa jijik kepadaku?!” tanyanya sembari menunjukkan lidahnya yang berlumuran darah. Aku membuang wajah, perut ini rasanya mual sekali. Aku sudah tidak tahan!!
Dengan sedikit tambahan tenaga, aku mendorong tubuh pria yang sedikit tak berisi ini. Dia terhuyung-huyung menabrak dinding pembatas ruangan kamar kontrakannya. Aku berhasil bangkit, dan mencoba lari. Tetapi lelaki berkulit sawo matang itu menahan langkahku, menarik rambut hitam yang panjang dan terurai. Dia mengarahkan pisau lipat itu tepat di leherku. Memainkannya mengitari seluruh wajah dengan pipi tirus ini. Dia tertawa saat melihat mataku membulat sempurna, wajah putihku pucat pasi. Tubuhku bergetar. Aku sangat ketakutan.
“Kamu sangat cantik sekali, Vita.”
“Tolong lepaskan aku Rian,” ucapku lirih. Rian menggeleng. Dia tertawa lagi. Tangannya mencengkeram erat pundakku.
“Aku tidak akan melepasmu, Vita. KAMU AKAN MATI DI TANGANKU!! Ah, salah, kita akan mati.”
Aku menggeleng keras. Aku tidak mau mati!! Aku ingin hidup!! Bagaimana dengan keadaan bayi yang ada di dalam perutku? Bagaimana dengan usahaku selama ini? Tangisanku tak tertahan. Aku berteriak histeris. Bersamaan dengan pisau yang kini berada tepat di atas perut yang sedikit menggelembung. Aku tercekat.
“Seharusnya dia adalah anakku!! Aku ayahnya, kamu ibunya, dan kita keluarga bahagia!! Tapi … sayangnya kamu …” ucapannya tak dilanjutkan. Rian kembali menatapku tajam. Pisau itu masih bertengger di atas perutku.
Tangan sebelah kirinya menyentuh luka akibat sayatannya tadi. “Kau tahu, sebenarnya aku ingin sekali melakukan seperti ini di perutmu. Tapi, aku tidak ingin berdosa untuk kesekian kalinya. Jadi, aku memberimu kesempatan yang hanya kuberikan sekali.”
Aku menggeleng,” Tidak Rian!! Aku tidak akan pernah mau menikah denganmu!!”
Wajah Rian memerah, tekanan darahnya menaik, rahangnya mengeras. Di mencengkeram lengan yang berdarah itu keras. Aku menjerit.
“Kamu sungguh keras kepala Vita!! Seharusnya kamu bersyukur, kalau aku masih mau menerimamu yang sudah berbadan dua!! Kenapa kamu masih saja mempertahankan semuanya dengan Beny?! Kenapa harus pria beristri dan juga sahabatku?! Kenapa?!”

Tangisan Rian pecah. Dia membuang pisaunya sembarangan. Aku tercekat. Aku tidak pernah melihat Rian semarah ini. Meski, dia tahu kalau aku sering kali berganti pasangan. Tapi, kenapa jika dengan Beny? Apa itu salah? Ah, Rian tidak pernah tahu jika aku mencintai Beny sejak dulu. Akulah si anak panti yang sering kali mengintip kegiatan Beny dan selalu mengikutinya. Aku mencintai Beny lebih dulu sebelum Mira gadis sialan itu datang. Tapi, semenjak Mira datang, Beny berubah dan jatuh cinta padanya. Apa aku salah merebut yang pernah kumiliki dulu?!
Aku kembali ke dunia nyata. Rian meraung-raung. Menjambak rambutnya, memukul kepala berkali-kali. Aku tidak kuat melihat pemandangan ini. Sepertinya aku harus mengakhirinya. 
Rian masih saja menangis, dengan sekuat tenaga aku mengambil lampu tidur dan memukulnya ke arah kepala bagian belakang Rian. Berkali-kali. Hingga erangan dan tangisa Rian terhenti. Darah mengalir deras dari kepala Rian membasahi lantai kamarnya. Napasku terengah. Aku tertunduk. Lemas.
Pintu kamarnya di buka secara paksa. Aku melangkah mundur. Dan terlihatlah Mira yang merangkul Beny, dan dua aparat polisi.
Mira teriak histeris ketika melihat Rian. Aku tertunduk. Wajahku pucat. Beny menggeleng dan menatapku tajam. Aku menangis, ketika aku sadar jika telah membunuh Rian dengan kedua tanganku sendiri. Ambisi menghilangkan akal warasku.
Polisi mendekat, memborgol kedua tanganku, dna membawaku pergi. Ya, ambisi juga yang menghancurkan mimpiku menikah dengan Beny.
——————————————
Selesai.πŸ˜…πŸ˜…

Aneh gak sih?
Ya, tapi seperti itulah intinya. Jadi, ambisi berlebihan tak boleh ya.πŸ˜…πŸ˜…

Terima kasih telah membaca.

10 tanggapan untuk “#Cerpen : Ambisi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s