Celoteh

Sebungkus Coklat, Penebar Derita

Enggan rasanya aku bangkit dari ranjang yang berpasangan dengan busa yang sangat tipis. Aku masih betah bersembunyi di balik selimut tebal, meringkuk sempurna seperti seorang bayi. Tubuhku benar-benar menggigil, satu selimut tidak bisa menghangatkan badan ini. Musim dingin di Taiwan adalah hal yang sangatku benci.

Suara siulan burung di atas dahan, hingar bingar kendaraan yang berlalu lalang benar-benar mengganggu pendengaranku. Selimut ini tidak bisa mengilangkan kebisingan. Ah, jalanan itu, kenapa tidak pernah sepi? Sekali saja. Perlahan mataku mulai terbuka. Tidak ada cahaya matahari yang masuk dari celah jendela. Matahari memang suka sekali bersembunyi. Dia digantikan dengan awan yang gelap dan hitam. Tetapi, mataku membulat sempurna saat melihat jarum jam yang bertengger manis di angka 7. Oh Tuhan!! Pantas saja ramai.

Dengan enggan, aku mulai bangkit dari atas ranjang. Menyibakkan selimut, dan melepas kaos kaki yang tadi menutupi kaki. Aku bergegas membersihkan diri agar terlihat segar. Meskipun dingin, aku bukan gadis pemalas. Catat itu!!

Kedua mata coklat ini membulat sempurna, saatku melihat ada perubahan di wajah. Pipi sebelah kanan menggelembung, dan ini tidaklah wajar. Perlahan tangan ini menyentuhnya, ah, sakit. Aku meringis menahan rasa yang berdenyut-denyut.

Penasaran. Aku membuka mulut, dan melihatnya sendiri. Ah, apa yang terjadi? Kenapa gusiku nampak seperti sedang hamil tua? Dia menggelembung, memerah, dan mengerikan. Aku saja tidak sanggup melihatnya, apalagi menjabarkannya. Aku menutup mulut kembali, mencoba mengingat apa yang menyebabkan sang gusi memberontak.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Dengan cepat keluar dari toilet, membuka kulkas, dan mengambil suatu benda. Sebuah kotak yang bentuknya sangat cantik, di dalamnya terdapat beberapa bulatan seperti pimpong yang rasanya sangat enak. Aku menghela napas, makanan enak inilah penyebab gusiku memerah. Aku memberenggut kesal, ya, andai saja aku tak tergoda membelinya.

Aku memang penggemar cokelar, tapi aku jarang memakannya sejak gigi dan gusi ini sering membengkak. Dan sekarang, aku melanggar larangan itu. Gara-gara tergoda untuk menikmati dengan alasan perbaikan mood yang tak karuan. Ah, aku menyesal!!

 Kulempar cokelat itu ke dalam tong sampah yang terletak tak jauh dari pandangan mata. Ikhlas tidaknya, aku pun tak tahu. Yang pasti aku tidak akan menyentuhmu lagi, wahai sang cokelat. Cukup!!

Aku benar-benar tidak akan tergoda lagi, sungguh. Kusentuh pipiku yang masih terasa sangat sakit. Demi kenikmatan, kelezatan, dan kepuasan. Aku merugi!!

Aku kembali lagi menyelesaikan ritual pagi. Tentunya dengan cerita sakit gusi.πŸ˜…
——————————————

Akakakk… ini hanya secuplikan kisah.πŸ˜… Sekaligus celotehan di pagi yang dingin ini.

Terima kasih telah membaca.😊

7 tanggapan untuk “Sebungkus Coklat, Penebar Derita”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s