Ngobrol Asik

#Cerpen : Keterlambatan Yang Manis

Hallo pembaca tersayang.😊

Yuhu, seperti yang pernah disinggung dalam posting-an beberapa hari lalu, ya. Hari ini adalah hari pertama dari 9 Hari Menulis Asik 3 Kisah.

Sebenernya agak deg-degan. Takut kisah yang kubuat aneh dan beda dari kedua temanku. Haha.

Tapi, berhubung ini adalah tantangan dan harus dikerjakan. Mau enggak mau harus di post. Selamat membaca, ya.

————————————————

Judul : Keterlambatan Yang Manis

Karya : Icha Sischa


Malam kian larut. Aku menatap layar ponselku malas. Jam sembilan tepat. Seharusnya dia sudah sampai di sini. Menjemputku. Deru kendaraan yang berlalu lalang menggema, mengisi kesunyian malam secara bergantian. Aku merapatkan jaket, mengigit bibir, menghela napas. Aku tidak menyangka jika halte ini akan terlihat sangat menyeramkan saat malam. Kemana kau? Memangnya kau mau melihat fotoku di halaman pertama koran besok pagi? Seorang gadis tewas di depan halte karena kesepian!!

Ah, aku tidak benar-benar mengatakan hal itu!! Sungguh … lagi pula, aku bukanlah seorang gadis!! Sudah lebih dari satu jam aku berdiri, menunggunya tanpa kepastian. Seharusnya dia menghubungiku, atau setidaknya mengangkat telepon dariku. Sudah lebih dari 20 panggilan, tapi dia tak menjawab. Kemana perginya adikku yang pemalas itu? Dasar kura-kura ninja!!

Atau jangan-jangan dia lupa jika berjanji menjemputku?! Ah, aku memasukkan kembali ponsel dengan casing hello kitty ke dalam saku jaket sebelah kanan. Dan berharap jika dia akan cepat tiba. Ya Tuhan, kirimkanlah aku dewa penolong!!

Belum saja aku merapatkan bibir tipis yang merah merekah. Tiba-tiba bahu sebelah kanan ditepuk pelan oleh seseorang. Jantungku berdetak kencang, cepat, dan aliran darah serasa terhenti. Pikiran buruk pun berlalu lalang di otak. Apakah nasibku akan sama seperti korban-korban di tv? Apakah aku akan dijadikan sop lalu di makan oleh manusia? Atau aku akan di jual untuk dijadikan wanita simpanan? Ah, mengerikan!! Aku mengatur napas pelan-pelan. Aku benar-benar sangat ketakutan. Lihatlah, tubuhku yang seperti tengkorak hidup ini bergetar, keringat dingin mengucur deras, dan rasanya … aku ingin sekali pipis. Ini tidak lucu!! terakhir kali aku pipis di celana adalah ketika TK, dan sekarang umurku sudah 25 tahun.

“Ra, ini aku Beny,” ujar suara itu pelan.

Jantungku lagi-lagi berhenti berdetak. Apakah saat ini aku sedang bermimpi atai berhalusinasi? Beny si mata bulat seperti jengkol itukah? Oh, Tuhan!! Apakah itu dia? dengan perlahan aku membalikkan tubuh, dan pemandangan ini benar-benar membuatku membulatkan bibir dengan sempurna. Beny, lelaki berkulit sawo matang, berambut sedikit ikal itu nampak tertawa melihat ekspresi ajaib yang kutunjukkan. Wajah bulat milikku terlihat pucat pasi.

“Kamu masih penakut ya, Ra?!” tanyanya seraya mencibir. Lalu cowok dengan tinggi 170cm itu tertawa lagi.

Aku membuang wajah ke arah lain, melipat kedua tangan di atas perut, bibir tipis ini bergumam tak jelas, melihat Beny yang masih saja tidak berhenti menertawakanku. Apakah dia pikir aku ini seorang badut? Ah, Beny masih saja menyebalkan seperti dulu.

“Duduk sini, aku sangat merindukanmu,” ujarnya yang menarik tangan kananku. Dengan sangat enggan, aku mengekor mengikutinya. lalu dia berhenti sejenak, mengambil tisu di saku celananya, lalu membersihkan kursi halte sebelum aku duduk. Aku hanya tertegun, tersenyum tipis, dan membulatkan mata meski tidak sebesar mata Beny. Dia masih mengingat ritual yang sering aku lakukan.

“Selama ini kemana saja kamu, Ra? Hilang seperti ditelan bumi. Sudah menikah lagi belum?!” tanyanya menyidik.

Aku terdiam sejenak, enggan bersuara. Kenapa harus pertanyaan itu? Apakah tidak ada pertanyaan lain yang lebih menarik? 

“Sepertinya, kamu masih belum bisa melupakan aku, ya?!” lanjutnya dengan nada bercanda.

Aku memanyunkan bibir, membulatkan mata seolah tak setuju dengan ucapan Beny. Duduk bersebelahan seperti ini mengingatkanku saat masih bersamanya. Dulu kami sering kali bersantai bersama, menonton tv sampai larut malam. Ah, andai saja tidak ada penghianatan dan sandiwara diantara kita. Mungkin, saat ini statusku masih istri Beny.

Aku kembali ke dunia nyata, saat Beny tanpa ragu menarik tangan yang tadinya ada di atas pahaku. Dia menggenggamnya erat, matanya menatap lekat mata cokelat milikku. Aku menahan napas untuk beberapa detik. Mata hitam milik Beny masih sama seperti yang dulu, selalu berbinar ketika menatap mataku seolah matanya ikut berbicara. Tapi, ada yang lain di matanya, seperti menahan luka, rindu, dan kesakitan. Ah, aku tidak kuat menatapnya lagi!! Kubuang wajah ini kearah lain, Beny menangkup wajah yang mulus tanpa jerawat dengan kedua telapak tangannya. Dia … menangis.

“Ra, aku benar-benar tersiksa. Aku sangat merasa bersalah atas sikapku terhadapmu, atas yang pernah terjadi diantara kita dua tahun yang lalu. Aku masih sangat mencintaimu, Ra,” ujar Beny lirih, kepalanya kini bersandar di bahu bagian kanan milikku. Aku masih terdiam. Bingung. Entah apa yang harus aku lakukan?

Perlahan, aku menjauhkan tubuh Beny dari pundakku. Menghela napas berat, dan mencoba untuk tidak lagi menangis. Kutatap lekat wajah Beny yang sudah bersimbah air mata. Apakah ini benar Beny kudulu? Apakah dia sudah benar-benar berubah?

Beny memang lelaki yang sedikit humoris, tapi dia juga termasuk lelaki arogan. Dulu sifat buruknya sering kali membuatku menangis, tapi tetap saja aku memaafkannya, bahkan memberi kesempatan berkali-kali untuknya. Beny tetap saja mengulangi kesalahan itu lagi dan lagi.

Air mataku sudah lolos, pertahanan ini sia-sia. Aku kembali mengingat kejadian terkutuk itu!! Bayangan wajah Beny yang tengah mencumbu Vita mesra terlintas begitu saja dipikiranku. Pesta perayaan pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan untukku, berakhir duka. Ya, aku menghancurkan pestaku sendiri karena mereka!! Aku baru sadar, selama ini mereka membuat kerajaan di atas kerajaan. Mereka membangun kebahagiaan di atas kehidupanku. Mereka sang penghianat cinta!! 

Aku mendongakkan wajah, saat Beny mengusap air mata yang mengalir membasahi kedua pipiku.

“Jangan menangis, aku yang  bersalah atas semuanya,” ujar Beny lirih.

Aku menjauhkan tangannya dari wajah yang penuh air mata. Bukan perpisahan yang kutangisi. Tapi, kebohongan yang akan selamanya kubenci. Mereka adalah orang-orang terhebat dan kucintai. Tetapi, dengan teganya melukai, mengkhianati. Atas dasar khilaf mereka datang meminta maaf. Memohon agar aku memberi kesempatan lagi. Tidak akan!!!

Hatiku sudah sangat terluka. Ibarat potongan kertas, tidak mungkin bisa kembali utuh secara sempurna. Meski dia berusaha memperbaikinya. Karena tidak ada kesempatan untuk sebuah kesakitan. Tidak ada pengulangan untuk sebuah kebohongan.

Aku bangkit dari duduk, dia berusaha menahan tanganku. Tetapi, aku tetap memaksanya untuk melepaskan. Dia menggeleng. Tanpa aku sadari, dia berlutut sambil menangis. Aku terkejut saat dia melakukannya. Dia tidak pernah sekali pun melakukan itu pada siapa pun. Dia laki-laki yang penuh ego dulunya. Mengucapkan kata maaf saja seolah memaksanya memakan makanan basi. Tapi, melihatnya memohon berulang kali, menangis, hingga berlutut seperti ini, dia pasti benar-benar menyesal.

“Aku tahu, kita memang tidak akan bisa seperti dulu. Tapi, aku mohon, Ra. Terimalah aku sebagai temanmu. Hapuslah dendammu!! Izinkan aku memperbaiki kesalahan yang dulu kulakukan,” ucapnya lirih.

Selama ini aku sering memikirkan, apa yang akan terjadi jika aku berbaikan dengannya. Apakah kami akan rujuk? Ah, tapi penghianatan akan membuatku selalu was-was walaupun aku masih sangat menyayanginya. Aku tak bisa gagal dua kali dalam pernikahan. Karena pernikahan bukan tentang sekedar cinta.

“Ra.”

Beny masih menunggu jawabanku. Apakah aku bisa kembali berteman dengannya? Hm, sebenarnya, setelah hubungan putus, sepasang kekasih umumnya menjadi orang asing. Namun, aku tak bisa membuang fakta bahwa sebelum menikah kami berdua adalah teman baik. Mungkin aku bisa berteman dengannya.

“Ya, kita akan tetap jadi teman.” Jawabku tegas.

Beny yang tadi tertunduk kini mendongak, wajah ovalnya berbinar. Dia tersenyum. Keputusanku membuatnya terlihat bahagia.

“Terima kasih.”

Mata Beny terlihat berkaca-kaca, dengan cekatan, aku membantu lelaki itu bangkit. Dia mengacak rambutku pelan, mencubit hidung yang tak mancung ini. Dia mengajakku kembali menembus hujan seperti yang dulu pernah kami lakukan.

Hujan yang pernah menjadi saksi bisu saat perpisahanku dengan Beny dua tahun lalu. Dan kini, hujan menjadi saksi pertemuan dua hati yang pernah saling jauh.

Aku mengangguk, mengikuti langkah Beny. Tidak lagi memperdulikan sepatuku yang nantinya kotor dan basah. Momen kebersamaan Beny harus terekam dalam jejak kenangan. Keterlambatan yang manis, aku dan Beny berlarian di tengah rintik hujan. Perpisahan dan masa lalu tak boleh membuatku menjadi pendendam.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Wah, selesai.😊

Bagaimana? Aku hanya mengikuti apa yang mau aku tulis. Mungkin memang berbeda dengan milik Ayu. Karena memang uniknya di situ. Haha.

Butuh kritik dan saran.😊

Note : Jangan copas dan edit ya!! Kalau ada cerita yang serupa, bisa beritahu aku, ya!

Terima kasih telah membaca.😊

26 tanggapan untuk “#Cerpen : Keterlambatan Yang Manis”

  1. Aduh jangan kritik saya juga masih belajar kak. Tapi kalo saran, menurut aku pas cerita tentang konflik penghianatan lebih diperkuat, apalagi ketahuan selingkuh di atas ranjang. Haha bakal menarik tuh kak ceritanya gimana.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke Vera Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s