Cerpen

Bagian Dari Kenangan

“Desti?”

Sebuah suara menghentikan langkahku. Aku menggeleng berat, membalikkan badan lantas memasang senyum dengan enggan. Ku pikir, mereka tidak mengenaliku.

Tapi, pemikiranku ternyata salah. Mereka, ke empat gadis yang sudah berdiri di hadapanku saat ini masih mengenali siapa aku. Kini, mereka nampak tersenyum manis kepadaku.

“Desti, ini teh kamu? Ya ampun, sampai pangling. Dulu kan kamu banyak jerawatnya, sekarang udah bersihan,” ujar Vania, si gadis berambut panjang yang di biarkan terurai.

Aku mengangkat kedua alisku, dia selalu begitu. Lidah yang tidak bertulang, selalu mengurai kalimat yang menyakitkan hatiku. Tentu, aku telah berubah.

Dengan mimik penuh kepalsuan, aku mencoba bersikap ramah terhadap kawan lamaku. Dulu, mereka adalah temanku. Ya, meskipun mereka tidak pantas aku anggap teman.

“Ayo, kita duduk dulu.” Salah satu dari mereka menarik tanganku secara paksa. Dengan sangat berat hati aku mengikuti mereka.

“Kita sudah lama tidak bertemu. Kenapa kamu tidak pernah hadir di acara reuni?” tanya Diana, gadis berambut pendek.

“Aku sibuk.”

Jawabanku membuat wajah Diana memerah, dan ketiga teman lainnya pun serupa. Bahkan, mereka kini saling beradu pandang, saling berbisik, dan saling membicarakan aku. Ah, aku sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu.

Duduk di tengah-tengah mereka membuat ingatanku melayang ke masa sekolah dulu. Masa yang paling teramat menyakitkan untukku. Aku memang sudah terbiasa mendapat cemoohan, perlakuan tidak menyenangkan, bahkan terkunci di dalam toilet berjam-jam, dan di permalukan di tengah keramaian. Ah, masih banyak sekali jika aku mengingatnya.

“Kami juga sibuk. Tapi, apakah kamu tidak merindukan masa-masa sekolah?” tanya Diana lagi.

Aku mendesah, lalu membuang wajahku ke arah lain. Bagaimana mungkin aku merindukan sesuatu yang tak pantas aku kenang?

Jika saja, saat itu mereka tidak meninggalkan aku begitu saja di tepi jalan. Mungkin, aku tidak akan mengalami kejadian yang mengerikan.

Berlari menghindari kejaran preman yang tengah mabuk. Beruntung … aku hanya tertabrak dan mengalami cidera yang tidak terlalu berat. Hanya perlu memakai tongkat beberapa bulan, serta jahitan yang bertengger di keningku.

“Aku sibuk, dan tidak bisa di ganggu. Jadi, maaf.”

Aku memutuskan untuk beranjak dan bangkit meninggalkan mereka. Aku sudah tidak ingin berurusan dengan mereka lagi.

Cukup sudah …

Luka yang mereka torehkan padaku terlalu dalam.

“Tunggu, kita baru bertemu. Apa kamu tidak merindukan kami?” Lagi-lagi hanya Diana yang bertanya.

“Maaf, aku tidak merindukan kalian. Cukup.”

Wajah mereka terlihat marah, mereka membulatkan matanya lebar-lebar.

Aku membuang wajahku ke arah lain. Kalimat itu memang seharusnya aku ucapkan. Agar mereka tau. Luka yang mereka berikan tidak akan pernah kering untukku.

“Maafkan kami.”

Diana kembali bersuara, dan aku hanya menjawab dengan gelengan ringan. Lantas, mengajak kedua kakiku melangkah menjauhi kawan lamaku.

Aku sudah berjalan di depan mereka, dan meninggalkan mereka yang mungkin masih menatap kepergianku. Atau bahkan, mereka tengah mengeluh akan sikapku kali ini.

Aku sudah tidak peduli.

Toh, aku juga tidak ingin mengenal mereka lagi. Selamat tinggal bagian dari kenangan menyakitkan. Aku sudah membuka lembaran baru dengan orang-orang yang terbaik.

Orang-orang yang memakai otaknya, dan kebaikan hatinya. Tidak seperti kalian teman masa lalu.

7 tanggapan untuk “Bagian Dari Kenangan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s