Cerpen

Kau Bukan Takdirku

“Shinta, bagaimana hubunganmu dengan Dimas?” suara Ayah yang terdengar di sela kegiatan makan malamnya saat ini. “Baik ,Yah,” timpal Shinta sembari memasukkan potongan wortel ke dalam mulutnya.

“Bukan itu maksud Ayah, bagaimana arah hubungan kalian sekarang? Ingat Shinta, usiamu bukan lagi remaja. Kamu sudah dewasa, lagi pula hubungan kamu dengan Dimas terbilang cukup lama,” papar Ayah yang mencoba menjelaskan.

“Iya, Nak. Ayahmu benar, setidaknya kamu harus mengambil keputusan untuk arah hubunganmu dengannya,” Ibu menimpali perkataan Ayah. Shinta meletakkan sendok serta garpunya begitu saja, ia sudah kehilangan selera makannya. Jujur, Shinta merasa sangat risih dengan pertanyaan yang sering di lontarkan kedua orang tuanya.
“Shinta kenyang, mau ke kamar,” ujar Shinta yang beranjak meninggalkan Ayah dan ibunya yang menatapnya tajam. Karena, menghindar adalah hal yang sering Shinta lakukan. Shinta berlari ke arah tangga, dengan cepat namun hati-hati. Ia kini telah sampai di kamarnya, ia langsung membuka pintu dan berhambur membanting tubuhnya secara brutal ke ranjang. Tak memperdulikan rasa sakit di tubuhnya nanti.
Shinta membenamkan wajahnya di bawah bantal yang ia raih dengan tangan kirinya. Seketika, Shinta membalikkan tubuhnya. Ia harus menemui Dimas malam ini juga. Di raihnya handphone yang berada di saku celananya,”Hallo,” ujar Shinta ketika teleponnya mulai tersambung.
“Hallo, Ta. Ada apa sayang?” suara Dimas terdengar di ujung sana. Sekilas senyum Shinta mengembang, suara Dimas sudah menjadi candu baginya.
“Temui aku, malam ini juga di Cafe pelangi,” ujar Shinta.

“Oke, aku akan ke sana,” timpal Dimas. Lalu, sambungan telepon mereka terputus. Shinta segera bangkit dari ranjang. Ia meraih tas kecilnya dan kunci mobilnya. Dengan cepat, ia keluar kamarnya dan melangkah menuruni anak tangga.
“Mau kemana, Ta?” tanya Ibu yang melihat Shinta memainkan kunci mobilnya. Shinta menghentikan langkahnya sejenak, ”Shinta ada perlu Bu, Cuma sebentar,” lalu Shinta berlalu meninggalkan Ibunya yang masih menatap kepergiannya.

Shinta masuk ke dalam mobil  dan menjalankan mesinnya. Lalu, berlalu meninggalkan halaman rumahnya. Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di tempat yang ia tuju.
Cafe ini adalah tempat favorite Shinta dan Dimas, keduanya sering menghabiskan waktu berlama-lama di cafe ini. Shinta segera melangkahkan kakinya, menelusuri barisan meja yang penuh pengunjung. Dari kejauhan, Shinta tersenyum. Saat matanya menangkap lelaki yang ia cintai. Dimas sudah duduk manis sembari meminum hot capucino kesukaannya. Di depannya pun terlihat segelas jus alpukat kesukaan Shinta. Rupanya lelaki itu memesankannya. Tangannya melambai, saat Dimas melihat Shinta. 
Shinta mendekat,” Sudah lama?” sapanya sembari mendaratkan bokongnya di atas kursi yang bersampingan dengan Dimas. Tangan kanannya meraih jus alpukat, lalu meminumnya sedikit.
“Belum, baru juga sampai,”jawab Dimas,” Kamu mau ngomong apa sih, Sayang? Sepertinya penting sekali,” tanya Dimas sembari menatap mata Shinta. Sedangkan Shinta memainkan jemarinya,”A-ada ya-yang ingin aku tanyakan padamu,” ujar Shinta dengan sedikit terbata-bata.
Dimas tersenyum,” Tidak usah grogi seperti itu, apa yang mau kamu tanyakan Shinta?” tanya Dimas yang kini mulai serius. Ia meraih tangan Shinta, dan menggenggamnya erat.
“Bagaimana dengan arah hubungan kita Dimas?” Shinta menatap mata Dimas,”Ayah kerap kali menanyakan tentang hubungan kita, aku sudah bosan mendengarnya Dimas,” keluh Shinta yang membuang wajahnya ke arah lain. Perlahan, genggaman erat tangan Dimas mengendur. Shinta melirik sekilas ke arah kekasihnya, wajahnya sudah memucat.
“Dimas, ayolah. Ambil keputusan untuk hubungan kita,” pinta Shinta yang meraih lengan Dimas,” Aku butuh kepastian, bukan sekedar janji atau harapan,” sambungnya.
“Huh,” Dimas membuang napasnya pelan,”Aku tahu Shinta, tapi aku bingung,” ucapnya, ia menatap gadisnya lirih. Perlahan tangan Shinta menjauh, ia tahu apa jawaban yang akan ia dengar.
“Sejujurnya, aku berat untuk mengatakan ini Shinta. Tapi, aku tidak bisa seperti ini terus menerus,” ujarnya.

Shinta berusaha untuk tetap kuat dan tegar, sejujurnya ini yang ia khawatirkan sejak dulu. Hubungannya yang tak tentu arah.

“Shinta,”panggil Dimas lirih, ia meraih kedua bahu gadisnya,”Aku mencintaimu… sangat mencintaimu….” ucapnya lirih.

Dimas menghela napasnya “Tetapi, hubungan kita tak bisa lagi di lanjutkan,” ujarnya.

“Di-Dimas,” panggil Shinta lirih. Air matanya mengalir begitu saja. Dimas menyeka butiran kristal yang mengalir di pipi gadisnya.

“Maafkan aku Shinta, sejujurnya ini pilihan yang berat. Aku tidak bisa meninggalkan agamaku. Begitu juga denganmu?” celetuk Dimas. Wajahnya terlihat begitu sendu.
“Jadi, selama ini kamu tidak ingin memperjuangkan kisah kita lagi?” timpal Shinta yang diiringi linangan air mata. Ia teringat akan perjuangannya dulu, bagaimana ia meyakinkan kedua prang tuanya yang melarang hubungan asmaranya dengan Dimas.
“Apa yang harus kita perjuangkan Shinta? Semua sudah jelas,” Dimas menghentikan ucapannya,” Aku sudah mengambil keputusan untuk merelakan hubungan kita berakhir seperti ini. Karena, selama ini hubungan kita tak mendapat titik terang, Shinta,”papar Dimas.
“Dimas, pertimbangkan lagi keputusanmu. 5 tahun sudah kita menjalani kisah asmara ini. Dan itu bukan waktu yang singkat Dimas,” rengek Shinta, sudah banyak hal yang di lewati bersama Dimas. Dan Shinta tak rela, semua itu berakhir begitu saja.
Dimas membelai lembut pucuk kepala gadisnya,” Iya, aku tahu. Tapi, selama itu pula aku tak bisa untuk melepaskan agama yang aku yakini, Shinta. Maafkan aku kekasih, suatu saat nanti kamu pasti akan bahagia bersama lelaki yang seiman denganmu. Dan mendapatkan suami yang soleh dan membimbingmu masuk ke surga,” ucapnya tanpa sadar air mata Dimas menetes keluar. Sungguh, ia tak tega melihat Shinta yang menangis.
“Dimas… aku tak bisa, aku sangat mencintaimu… sungguh, Dimas,” ujar Shinta meyakinkan Dimas sembari menangis. Tangannya terulur meraih tangan Dimas yang berada di atas kepalanya. Genggamannya begitu kuat.

“Aku percaya Shinta, tetapi cinta itu tak harus memiliki,” Dimas membelai tangan Shinta,”Percayalah sayang, Tuhan sudah mempersiapkan jodoh terbaik untukmu,” ujar Dimas lalu ia bangkit dari duduknya, dan menjauhkan tangan Shinta darinya.
“Aku pulang duluan ya, jaga dirimu baik-baik,” Dimas meninggalkan Shinta seorang diri. Shinta menangis tersedu-sedu, dadanya terasa begitu sesak. Asupan oksigen baginya terasa begitu berkurang, dengan langkah gontai ia melewati barisan meja yang menatapnya aneh. Harapannya hancur, kisah indah yang selama ini ia rangkai cuma tinggal kenangan. Hilang bersama hembusan angin yang menerpanya dalam dingin.

Jujur, Shinta belum bisa merelakan keputusan Dimas. Keputusan kekasihnya itu sangat menyakitkan. Hatinya terasa begitu perih, bak tertusuk seribu duri. Meski ia tahu, itu adalah keputusan terberat yang di ambil oleh Dimas. Lelaki itu kerap kali melarangnya mengakhiri hubungannya sejak dulu.
Shinta mengendarai mobilnya sembari menangis,sesekali ia memukul setir mobilnya. “Kamu tega Dimas, kamu tega….” Ucap Shinta kesal.
Tangisnya mengganggu alur kemudinya, berkali-kali Shinta hampir menabrak kendaraan yang berlalu lalang. Sesampainya di rumah, Shinta berlari ke arah kamarnya. Ia menangis tersedu-sedu. Ibunya yang melihat Shinta seperti itu, segera berlari menuju kamar anak gadisnya.
“Shinta… kamu kenapa Nak?” tanyanya dari balik pintu. Shinta tak menjawab, bibirnya keluh karena suara tangis.

“Nak, kamu kenapa Sayang?” rupanya kekhawatiran ibunya menjadi.

“ Shinta tidak apa-apa, Bu,” ujar Shinta.

“Kamu yakin, Nak? Jujurlah sama Ibu,”Shinta meraih kunci pintu dan mengizinkan ibunya masuk. Shinta langsung menubruk ibunya.

“Ibu… Dimas… Dimas… ninggalin Shinta,” rengeknya sembari menahan isak tangisnya.

Ibunya mengelus punggung Shinta,” Sudah, Nak. Jangan menangis, masih banyak lelaki di luar sana, Nak,” kata Ibunya mencoba menghibur.

Shinta menggeleng,”Shinta hanya mencintai Dimas,Bu. Tidak ada lelaki di dunia ini yang seperti Dimas,” rengeknya.

“Shinta, lihat Ibu,” Ibunya meraih wajah putrinya yang penuh air mata,” Kamu boleh mencintai seseorang, tapi tidak boleh berlebihan. Allah benci hal itu. Lagi pula, Ibu dan ayah memang tidak menyetujui hubungan kalian sejak awal. Karena Ibu khawatir  hubungan kalian akan seperti ini. Percayalah, Nak. Akan ada yang terbaik, diantara yang baik,”Papar ibunya memberikan semangat untuk putrinya.

“Dunia itu tak sesempit daun kelor, Nak.,” sambungnya.

“Tapi Bu,” sela Shinta.

“Sudah, kamu istirahat sayang, sudah malam,” Ibunya menuntun Shinta ke arah ranjang  dan menyelimuti tubuh Shinta. Lalu beranjak emnninggalkan kamar gadis cantiknya.

Seminggu setelah kejadian itu, Shinta benar-benar berubah. Ia menjadi gadis yang pemurung, bukan Shinta yang ceria seperti biasanya. Tak ada lagi senyuman indah yang menghiasi wajahnya, yang ada hanya wajah yang terlihat lesu dan pucat. Ayah dan Ibu yang melihat perubahan drastis dari putrinya  nampaknya harus bersuara.
“Sudah, Nak. Mungkin dia bukan takdirmu,” kata Ibu sembari meletakkan sepotong roti dengan selai coklat di atas piring untuk Shinta.

“Iya, lupakan saja Dimas. Masih banyak lelaki lain,” celetuk Ayah yang menyela keduanya.
Shinta terdiam. Ia kehilangan selera makannya, ia bangkit dari meja makan dan berlalu meninggalkan kedua orang tuanya. Ia melangkah mendekati halaman di belakang rumahnya. Bibirmya tersungging, saat melihat bunga mawar yang di tanam bersama dengan Dimas. Bayangan semua kenangan tentang masa lalunya, berkeliaran di otaknya.

Hati Shinta terasa begitu sesak. Sungguh, ia tak sanggup melalui hidupnya tanpa Dimas. Bagaimana kisah hidupnya nanti? Dimas adalah oksigen untuk Shinta, namanya sudah terpaten di dalam hatinya. Shinta benar-benar tak bisa melanjutkan hidupnya tanpa Dimas.
“Arkkhhh….” Shinta menjerit. Ia menangis, mengeluarkan semua emosinya. Ia kehilangan arah, Shinta pun kehilangan selera untuk hidup.
‘Bruuuk’
Tubuhnya terjatuh kelantai, ayah yang melihat Shinta tergeletakpun segera menggotongnya. Dan membawa Shinta ke mobil untuk segera di larikan di rumah sakit. Sepanjang perjalanan, keduanya nampak mengkhawatirkan Shinta. Bagaimana tidak, gadis itu terlihat bukan seperti anak manusia. Ia lebih pantas disebut mayat hidup.
Shinta di dorong menuju ruangan, dokter masuk ke dalam ruangan dan memeriksa Shinta. D luar ruangan terlihat ibu yamg menangis khawatir. 20 menit berlalu, Dokter keluar dari runagan Shinta, dan memberi tahu kalau Shinta hanya lelah serta kekurangan asupan makanan.

Sore harinya, “Shinta, makan sayang. Biar cepet sembuh,” bujuk Ibunya yang sedari tadi menyuruh Shinta untuk mengisi perutnya. Tetapi, Shinta menggeleng, ia benar-benar tak lapar dan tak ingin makan.
‘Took… toookk…’ Tiba-tiba pintu ruangan Shinta di ketuk oleh seorang lelaki, mata Shinta melotot tajam. Saat melihat lelaki itu dalah Dimas. Jujur, ia senang akhirnya Dimas datang menjenguknya. Ada binaran kebahagiaan.
“Kamu datang menjenguk Dimas?”

Dimas mengangguk,” Kamu kenapa Shinta?” tanyanya.
“Tidak apa-apa, aku sehat Dimas. Aku hanya merindukanmu,” ucap Shinta, ibu yang merasa kehadirannya mungkin mengganggu. Akhirnya, keluar dari ruangan kamar Shinta.

“Tante keluar dulu ya, kalian bicara saja,” ucapnya  Dimas mengangguk.
“Dimas,” suara Shinta terdengar lirih, tangannya meraih  tangan Dimas yang dekat dengan ranjangnya. Seketika, Shinta terkejut mendapati cincin yang bertengger di jari manis Dimas. Alisnya terangkat,” Ini cincin tunangan?!,” ucapnya penuh tanda tanya.
Dimas mengangguk,” Iya Shinta, aku sudah tunangan. Sebenarnya pertunangannya sudah berlangsung 2 minggu yang lalu,” jelas Dimas.

Shinta tersentak, ucapan Dimas seperti setrum yang menyengat. Dimas mengulurkan kertas berwarna merah ke arah Shinta.

“Aku hanya memberikan ini, acaranya 3 hari lagi. Semoga kamu cepat sembuh dan bisa datang,” ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Shinta  dan menbiarkan gadis itu menangis lagi.

***

3 hari kemudian, Shinta memaksa untuk pulang dari rumah sakit. Ia ingin melihat prosesi pemberkatan pernikahan Dimas. Setidaknya, ia ingin melihat lelaki yang ia sayangi bahagia.
“Shinta, kamu yakin ingin datang?” tanya Ayah memastikan.

Shinta mengangguk,” Iya, Ayah,” ucapnya. Ayahnya menghentikan mobilnya  tepat di gereja tempat pemberkatan Dimas.

“Nak, kamu yakin kuat?” Ibu terlihat khawatir.

“Iya, Bu. Ta kuat ko,” ujar Shinta meyakinkan.

Shinta turun dari mobilnya, dengan langkah seirama ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Baru saja Shinta melangkah, tiba-tiba kakinya terasa begitu lemas. Saat melihat Dimas sedang bersanding dengan gadis lain. Tubuhnya lemas, sepertinya tulang-tulangnya telah lepas dari tempatnya.

Apalagi, Dimas juga menatapnya. Pandangan mereka bertemu, air mata Shinta mengalir. Sungguh, ia benar-benar merasakan sakit yang begitu mendalam.
Shinta menguatkan hatinya, ia berbalik arah  ke mobil tepat di mana kedua orang tuanya menunggu. Ia tak mampu menemui Dimas, lelaki itu sudah bahagia bersama wanita pilihannya. Ya, Shinta harus rela. Dimas sudah resmi menjadi suami orang. Dimas hanyalah kenangan, bukan masa depan. Dimas tidak di takdirkan untuk sejalan, Dimas bukan takdirnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s